Risk Management (Analisis Resiko)


Didalam suatu organisasi setiap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan selalu akan bertemu dengan ketidakpastian, sehingga ketidakpastian dalam bisnis akan menimbulkan risiko yang akan memberikan ancaman (biaya, kerugian dll) bagi perusahaan. Oleh karena itu setiap risiko yang terjadi didalam aktivitas bisnis harus senantiasa diminimalisasi. Dengan demikian untuk meminimalisasi risiko, perusahaan menerapkan pengendalian risiko karena dengan adanya penerapan pengendalian risiko yang efektif dapat menjadi hal yang baik bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. 

Resiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan istilah resiko (risk). Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen resiko menjadi trend utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen resiko dalam bisnis pada masa kini. 

Mengapa resiko harus dikelola? Jawabannya tidak sulit ditebak, yaitu karena resiko mengandung biaya yang tidak sedikit. Bayangkan suatu kejadian di mana suatu perusahaan sepatu yang mengalami kebakaran. Kerugian langsung dari peristiwa tersebut adalah kerugian finansial akibat asset yang terbakar. Namun juga
dilihat kerugian tidak langsungnya, seperti tidak bisa beroperasinya perusahaan selama beberapa bulan sehingga menghentikan arus kas. Akibat lainnya adalah macetnya pembayaran hutang kepada supplier dan kreditor karena terhentinya arus kas yang akhirnya akan menurunkan kredibilitas dan hubungan baik perusahaan dengan partner bisnis tersebut.


Risk control adalah metode pengendalian risiko yang tidak melibatkan uang/dana. Metode ini terdiri dari 3 tahapan, yaitu sebelum, pada saat, dan sesudah terjadi kontak dengan kerugian. Di sini kejadian-kejadian yang mengakibatkan kerugian keuangan diupayakan untuk dikurangi kemungkinan terjadinya dan besarnya kerugian keuangan yang terjadi diminimalkan. Ada 5 cara (metode) dalam pengendalian risiko:

Penghindaran Risiko (Risk Avoidance)
Salah satu cara mengendalikan suatu risiko murni adalah menghindari harta, orang, atau kegiatan dari exposure terhadap risiko dengan jalan: Menolak memiliki, menerima atau melaksanakan kegiatan itu walaupun 

hanya untuk sementara.
Menyerahkan kembali risiko yang terlanjur diterima, atau segera     
menghentikan kegiatan begitu kemudian diketahui mengandung risiko. Jadimenghindari risiko berarti menghilangkan risiko itu.

Karakteristik Dasarnya Menghindari Risiko
Beberapa karakteristik penghindaran risiko yang seharusnya diperhatikan : Boleh jadi tidak ada kemungkinan menghindari risiko, makin luas risiko yang dihadapi, maka makin besar ketidamungkinan menghindarinya, misalnya kalau ingin menghindari semua risiko tanggung jawab, maka semua kegiatan perlu dihentikan. Faedah atau laba potensial yang bakal diterima dari sebab pemilikan suatu harta, memperkerjakan pegawai tertentu, atau bertanggung jawab atas suatu kegiatan, akan hilang, jika dilaksanakan pengendalian risiko. Makin sempit risiko yang dihadapi, maka akan semakin besar kemungkinan akan tercipta risiko yang baru, misalnya menghindari risiko pengangkutan dengan kapal dan menukarnya dengan pengankutan darat, akan timbul risiko yang berhubungan dengan pengangkutan darat.

Program Pencegahan Kerugian 
Program pengurangan kerugian bertujuan untuk mengurangi keparahan potensial dari kerugian. Program pengurangan kerugian dapat dibedakan atas minimization program  dan salvage program. Minimization program dijalankan sebelum kerugian terjadi atau selama peristiwa yang menyebabkan kerugian itu sedang berlangsung dengan tujuan mengurangi tingkat keparahan kerugian. Salvage program  bertujuan untuk menyelamatkan. 

Implementasi dan Evaluasi hasilnya
Untuk mengimplementasikan keputusan penghindaran risiko, maka harus diadakan penetapan semua harta, personil, atau kegiatan yang menghadapi risiko yang ingin dihindarkan tersebut. Dengan dukungan pihak manajemen puncak, maka manajer risiko seharusnya menganjurkan policy dan prosedur tertentu yang harus diikuti oleh semua bagian perusahaan dan pegawai. Misalnya, jika objektif adalah untuk menghindarkan risiko sehubungan dengan angkutan kapal, maka semua depratemen diinstruksikan untuk menggunakan angkutan lain seperti angkutan kereta api atau truk. Penghindaran risiko dikatakan berhasil jika tidak ada terjadi kerugian yang disebabkan risiko yang ingin dhindarkan itu. Sesungguhnya metode itu tidak diimplementasikan sebagaimana mestinya, jika ternyata larangan-larangan yang telah diinstruksikan itu ternyata dilanggar walau kebetulan tidak terjadi kerugian. 

Pengendalian Kerugian (Loss Controlling)
Tujuan mengendalikan kerugian:
Memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian dan mengurangi penurunan bila suatu risiko kerugian memang terjadi. Pengendalian kerugian dibagi menjadi empat, yaitu:
  • Melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan kerugian
  • Program pengendalian kerugian berdasar sebab-sebab terjadinya
  • Pengendalian kerugian menurut lokasi
  • Pengendalian menurut timing 
  • Pengendalian kerugian menurut sebab-sebab terjadinya Secara tradisional tekhnik pengendalian kerugian diklasifikasikan menurut pendekatan yang dilakukan.

Pendekatan Engineering
Pendekatan hubungan kemanusiaan (human relations). Dalam beberapa keadaan kedua pendekatan dilakasanakan secara simultan. Pendekatan engineering menekankan kepada sebab-sebab yang bersifat fisikal dan mekanikal misalnya memperbaiki kael listrik yang tidak memenuhi syarat, pembuangan limbah yang tidak memenuhi ketentuan, konstruksi bangunan dan bahan dengan kualitas buruk dan sebagainya.Pendekatan human ralation menekankan sebab-sebab kecelakaan yang berasal dari faktor manusia, seperti kelengahan, suka menghadang bahaya, sengaja tidak memakai alat pengaman yang diharuskan, dan lain-lain faktor psikologis. Kedua pendekatan ini dalam prakteknya dijalankan secara simultan.

Pengendalian Kerugian Menurut Lokasi 
Tindakan pengendalian risiko dapat pula diklasifikasikan menurut lokasi daripada kondisi yang direncanakan untuk dikendalikan. 
Dr.Haddon menegaskan bahwa kemungkinan terjadinya kerugian dari kecelakaan lalu-lintas tergantung atas kondisi-kondisi  dalam :
1. Orang yang mempergunakan jalan 
2. Kendaraan 
3. Lingkungan umum jalan raya yang melingkupi faktor-faktor
seperti desain, pemeliharaan, keadaan lalu lintas, dan praturan.


Pengendalian Menurut Timming
Pendekatan ini mempertanyakan apakah metode itu dipakai:
1. Sebelum kecelakaan.
2. Selama kecelakaan terjadi.
3. Sesudah kecelakaan itu.
Klasifikasi ini telah dipergunakan juga sebagai kriteria untuk membedakan antara minimization dan salvage. Tindakan pencegahan kerugian (berdasarkan definisi) semuanya dilaksanakan sebelum kejadian. Klasifikasi yang kedua berdasarkan timing juga mengenalkan:
1. Phase perencanaan.
2. Phase pengamanan dan perawatan.
3. Phase darurat.
Segala perubahan-perubahan yang mendasar dari operasi, seperti pembelian mesin baru, penambahan bangunan, dan sebagainya, harus didahului dengan perencanaan pengendalian kerugian. Dalam phase perencanaan dilakukan segala pertimbangan untuk mengadakan perubahan dimana perlu dipandang dari sudut pencegahan kerugian atau pengurangan kerugian.

Phase pengaman dan perawatan meliputi program untuk memeriksa pelaksanaan dan mengusulkan perubahan bila perlu, misalnya kualitas jasa penjagaan dan sistem alat apakah sudah memadai, dan sebagainya.Phase darurat meliputi program-program yang menjadi efektif dalam keadaan darurat, misalnya pengadaan fasilitas pemadam kebakaran. 

Analisis Kerugian Dan Analisis Hazards
Berikut merupakan beberapa Definisi Resiko dari beberapa sumber:
Meurut IEC/TC56 (AS/NZS 3931), Analisis Risiko adalah Sistem teknologi, mengartikan risiko sebagai “kombinasi dari frekuensi, atau probabilitas munculnya, dan konsekuensi dari suatu kejadian berbahaya yang spesifik” (Cross, 1998). Menurut AS/NZS 4360:2004 risiko adalah peluang munculnya suatu kejadian yang dapat menimbulkan efek terhadap suatu objek Formula umum untuk perhitungan nilai risiko menurut AS/NZS 4360:2004. 

“Risk = Consequence X  Likelihood”

Likelihood: kemungkinan munculnya sebuah peristiwa
Consequence: dampak ditimbulkan oleh peristiwa tersebut.

Langkah awal dalam pengendalian kerugian adalah mengidentifikasi dan menganalisis kerugian yang telah terjadi, dan hazards mungkin menyebabkan kerugian itu di masa yang akan datang. Langkah ini memerlukan suatu sistem pelaporan yang komprehensif dan inspeksi secara berkala. Pemberi informasi yang utama adalah supervisor lini, yang bertanggung jawab terhadap operasi dimana peristiwa itu terjadi. Mereka dapat menyediakan informasi terperinci mengenai peristiwa itu, dengan mengisi formulir mereka akan lebih teliti terhadap hal yang menjadi penyebabnya..Informasi yang disediakan melalui laporan ini dapat dipergunakan untuk :
1. Mengukur performance manajer lini
2. Menetapkan operasi mana yang perlu diperbaiki

3. Mengidentifikasi hazards yang berkait dengan kerugian

Menyediakan informasi yang dapat dipergunakan untuk memotivasi manajer dan pekerja, untuk menaruh perhatian yang besar terhadap pengendalian kerugian.

Menentukan Kelayakan Ekonomis
Walau pencegahan segala kerugian diinginkan, tetapi tinjauan dari manfaat dan biaya tidak selamanya economically feasible. Karena pertimbangan yang bersifat ekonomis harus dilakukan. Biaya yang timbul karena peristiwa kecelakaan, sering dialokasikan lebih rendah dari jumlah yang mungkin terjadi. Hal ini disebabkan adanya biaya-biaya lain yang tersembunyi dan secara tidaklangsung
pada kecelakaan itu sendiri, misalnya :

1.   Biaya karena hilangnya waktu kerja bagi pegawai yang cidera
2. Biaya karena hilangnya waktu kerja pegawai lain karena menolong yang cidera.
3. Biaya berkenaan dengan rusaknya suatu mesin, peralatan harta yang lain. Hilangnya waktu produksi, biaya pengendalian kerugian biaya pemasangan dan perawatan peralatan, pengendalian kerugian dapat dibagi sebagai berikut :

o Pengeluaran modal dan depresiasi untuk alat pencegah seperti
dinding yang tahan terhadap api, alat pemadam kebakaran dsb.
o Pengeluaran seperti gaji, tunjangan, pakaian, biaya training bagi
penjaga, supervisor, regu pemadam, satpam, konsultan dsb.
o  Pengeluaran untuk menjalankan program misalnya biaya manual
dan lain-lain alat bantu, inspeksi perawatan preventif, dsb. 

Membandingkan Manfaat Dan Biaya 
Dalam membandingkan manfaat pengendalian kerugian dengan biaya yang dikeluarkan maka akan muncul persoalan, besaran benefit yang akan diperoleh. Karena manfaat biasanya tidak pasti, maka benefit itu harus dikalikan dengan probabilitas manfaat yang akan terjadi. Baik manfaat maupun biaya dapat disebarkan untuk beberapa tahun. Akibatnya orang harus membandingkan present value dari expected cost.

Evaluasi
Usaha pengendalian kerugian dapat dievaluasi dengan menetapkan:
o Apakah biaya kecelakaan atau peristiwa dapat berkurang
(menurun) dengan adanya usaha tersebut?
o Apakah kebijaksanaan keselamatan dan prosedur yang dianjurkan
oleh manajer risiko dapat dijalankan ?
o Perubahan-perubahan dalam kecelakaan diukur dengan
perubahan dalam premi asuransi, biaya-biaya lain kecelakaan,
frekuensi kerugian dari keparahan kerugian. Perubahan- perubahan ini yang harus dianalisis sebagai agregat berdasarkan
departemen dan exposure. 

Risiko Segregation and Diversification
Segregation dilakukan dengan memisahkan orang-orang atau benda-benda yang dapat menjadi penyebab kerugian. Diversifikasi dilakukan dengan memperbanyak aset atau aktifitas pada lokasi yang berbeda. 

Kombinasi atau Pooling
Kombinasi atau Pooling menambah banyaknya exposure unit dalam batas kendali perusahaan yang bersangkutan, dengan tujuan agar kerugian yang akan dialami lebih dapat diramalkan, jadi risiko dikurangi. Salah satu cara perusahaan mengkombinasikan risiko adalah dengan perkembangan internal. 

Pemindahan Risiko
Pemindahan risiko dapat dilakukan dengan tiga cara :
o Harta milik atau kegiatan yang menghadapi risiko dapat
dipindahkan kepada pihak lain, baik dinyatakan dengan tegas,
maupun berikut dengan transaksi atau kontrak.
o Risiko itu sendiri yang dipindahkan.
o Suatu risk financing transfer menciptakan suatu lossexposure
untuk tranferee. Pembatalan perjanjian itu oleh transferee dapat
dipandang sebagai cara ketiga dalam risk control transfer 

Risiko Operasional
Risiko operational merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal perusahaan, dimana risiko tersebut terjadi disebabkan oleh lamanya sistem kontrol manajemen dapat dilakukan oleh pihak internal perusahaan. Risiko operasional sebagai risiko dari kerugian atau ketidakcukupan dari proses internal, manusia dan sistem yang gagal dari peristiwa eksternal. Sebuah risiko yang mempengaruhi semua bisnis karena risiko operasional tidak dapat dipisahkan dalam melakukan aktivitas proses. Risiko operasonal dapat menimbulkan kerugian keuangan secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensialatas hilangnya kesempatan memperoleh keuntungan. 







Comments